Tak berhenti di darat dan laut, medan persaingan juga merambah ke sektor keuangan digital. Tiongkok meluncurkan mata uang digital nasional, e-CNY, yang mulai digunakan di 28 negara mitra BRI. Langkah ini menunjukkan ambisi Beijing mengurangi dominasi dolar Amerika dalam perdagangan internasional.
Melalui proyek percontohan mBridge dengan Thailand, Uni Emirat Arab, dan Hong Kong, Tiongkok berhasil melakukan lebih dari 40 transaksi uji coba lintas negara menggunakan Yuan digital. Meski demikian, dominasi dolar masih kuat, setidaknya sekitar 72 persen cadangan devisa global masih berbasis dolar, dan sistem pembayaran internasional CIPS milik Tiongkok baru menguasai kurang dari 4 persen transaksi dunia. Namun jika tren penggunaan Yuan terus meningkat, diperkirakan pada 2035 pangsa mata uang Tiongkok dapat menembus 12 persen transaksi global, cukup untuk menantang posisi dolar di Asia.
Sementara itu, di ranah militer, rivalitas ekonomi bertransformasi menjadi perlombaan kekuatan yang semakin intens. Pada tahun 2025, Angkatan Laut Tiongkok memiliki 372 kapal perang dengan total tonase 2,4 juta ton, menjadikannya armada terbesar di dunia secara kuantitas. Sebaliknya, armada Amerika yang ditempatkan di bawah Komando Indo-Pasifik hanya terdiri dari 108 kapal, namun dengan tonase lebih besar sekitar 3,1 juta ton. Strategi Beijing menekankan pada kuantitas dan kecepatan produksi galangan kapal di Dalian dan Jiangnan yang beroperasi 24 jam memungkinkan pembangunan kapal perusak Type 055 hanya dalam 18 bulan, setengah dari waktu yang dibutuhkan galangan Amerika Serikat.
Zona anti-akses dan penolakan wilayah (A2/AD) di Laut China Selatan menjadi simbol dari ambisi maritim Tiongkok. Pulau-pulau buatan di Kepulauan Spratly kini dilengkapi landasan pacu sepanjang 3.000 meter dan belasan hanggar pesawat tempur siluman J-20. Dari sana, Beijing dapat meluncurkan serangan dalam radius 800 kilometer yang mencakup Filipina dan sebagian Sabah.
Rudal jarak menengah YJ-12B dengan jangkauan 540 kilometer yang ditempatkan di Mischief Reef bahkan mampu menenggelamkan kapal induk jika memasuki jangkauannya. Situasi demikian memaksa Angkatan Laut AS menyesuaikan doktrin perangnya dari formasi carrier strike group menjadi distributed maritime operations, dengan kapal-kapal kecil seperti LCS yang dilengkapi drone canggih untuk mengurangi risiko deteksi.
Amerika menanggapinya dengan strategi inovatif berupa Ghost Fleet, yaitu armada kapal tak berawak yang dapat dikendalikan jarak jauh hingga 3.000 mil. Dalam latihan multinasional RIMPAC 2024, 142 kapal tanpa awak dikerahkan untuk pertama kalinya bersama 42 negara peserta.
Baca Juga : Mengenal Ganilla, Kitchen Truck Milik Marinir dengan Desain FuturisktikKata Kunci : Penyebab dan akar masalah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik
Obat Kuat Perkasa Pria Jakarta Utara Haji Abdul Azis Atasi Ejakulasi Dini
12 Jun 2026, 8:19 WIB
Pusat Pembesar Alat Vital Palembang Haji Abdul Azis Atasi Ejakulasi Dini
07 Jun 2026, 6:59 WIB
Pusat Pembesar Kejantanan Pria Bontang Haji Abdul Azis Ahli Terapi Resmi
28 Mei 2026, 3:33 WIB
Tinjomoyo Berpotensi Jadi Lokawisata Alam Ikon Semarang Asal Dikelola Serius dan Konsisten
24 Mei 2026, 11:50 WIB
Tradisional
16 Mei 2026, 14:47 WIB
Tradisional
14 Mei 2026, 1:46 WIB
07 Mei 2026, 15:52 WIB
Tradisional
01 Mei 2026, 10:36 WIB
Tradisional
26 Apr 2026, 16:40 WIB
Tradisional
23 Apr 2026, 9:09 WIB
Tradisional
21 Apr 2026, 22:45 WIB
Tradisional
24 Mar 2026, 12:10 WIB
09 Mar 2026, 14:11 WIB
14 Feb 2026, 17:12 WIB
09 Feb 2026, 18:44 WIB
05 Feb 2026, 18:39 WIB
31 Jan 2026, 19:52 WIB
31 Jan 2026, 20:03 WIB
31 Jan 2026, 19:25 WIB
22 Jan 2026, 16:31 WIB
18 Jan 2026, 8:18 WIB
17 Jan 2026, 17:25 WIB
Tradisional
17 Jan 2026, 13:08 WIB
08 Jan 2026, 20:57 WIB

Dukung kami sajikan berita Inspirasional dan Independen Melalui Google...