Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Home
»
Nasional
»
Detail Berita


Akar Filosofis Ngopeni Ngelakoni dalam Kehidupan Masyarakat Jawa Tengah

Foto: Gubernur Provinsi Jawa Tengah Ahmad Luthfi. (Istimewa)
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Bahkan dalam tradisi spiritual, orang Jawa memahami pentingnya ngopeni jiwa: suatu proses merawat kesadaran batin, menjaga keseimbangan emosi, serta tidak membiarkan diri terseret oleh gejolak dunia luar. Banyak perilaku sosial Jawa ditopang oleh ideal tentang ketenangan batin (inner peace) dan harmoni sosial.

Makna ngopeni juga terlihat dalam etika kerja masyarakat Jawa, khususnya dalam konteks hubungan sosial yang menekankan solidaritas dan keberlanjutan. Sikap gotong royong, tenggang rasa, dan keinginan menjaga keseimbangan sosial bukanlah sekadar ritual, melainkan praktik ngopeni dalam tatanan masyarakat. Dalam pembangunan modern, nilai ini dapat diterjemahkan sebagai prinsip keberlanjutan, perlindungan sosial, dan pelayanan publik yang manusiawi.

Sementara itu, istilah ngelakoni membawa dimensi tindakan dan komitmen. Ngelakoni tidak hanya berarti melakukan, melainkan menjalani sesuatu dengan kesadaran penuh. Dalam banyak teks klasik Jawa maupun etnografi kontemporer, ngelakoni dipahami sebagai bentuk pengabdian pada peran dan tanggung jawab seseorang. Orang Jawa memiliki pepatah “urip iku lakon”, yang menegaskan bahwa hidup adalah peran yang harus dijalani dengan tekun dan penuh kesadaran.

Baca Juga : Workshop Wartawan AHEMCE 2024, Merajut Keberagaman, Menjunjung Kesatuan, dan Menjaga Perdamaian untuk Keberlanjutan

Ngelakoni menuntut ketabahan, ketekunan, dan konsistensi. Ia adalah bentuk kesediaan untuk menghadapi tantangan hidup tanpa meninggalkan kewajiban moral.

Apabila kita memahami nilai ngelakoni dalam konteks pembangunan, ia dapat diterjemahkan sebagai orientasi pada tindakan nyata, penyelesaian tugas secara tuntas, serta komitmen untuk menjalankan peran secara bertanggung jawab. Prinsip ini relevan dalam tata kelola pemerintahan modern, yang membutuhkan birokrasi dengan integritas, konsistensi kebijakan, serta kesediaan untuk bekerja secara operasional dan bukan hanya konseptual. Moertono, dalam kajiannya mengenai konsep kekuasaan Jawa, menekankan bahwa kepemimpinan Jawa tradisional selalu menekankan dimensi pengabdian dan tindakan nyata sebagai bagian dari etika kepemimpinan.

Ketika kedua konsep tersebut—ngopeni dan ngelakoni—digabungkan, terbentuklah prinsip keseimbangan yang sangat khas dalam budaya Jawa. Keduanya membentuk suatu paradigma bahwa merawat dan menjalankan harus berjalan beriringan. Ngopeni tanpa ngelakoni akan menjadi kepedulian tanpa implementasi, sementara ngelakoni tanpa ngopeni akan menjadi tindakan tanpa arah moral yang jelas. Orang Jawa menempatkan harmoni sebagai pusat kehidupan sosial; karena itu, kedua prinsip ini menjadi pilar penyokong harmoni tersebut.

Baca Juga : Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Himbau PPDS Anestesi Undip dibuka Kembali

Halaman :

Kata Kunci : Filosofi Ngopeni Nglakoni slogan terbaru Provinsi Jawa Tengah era Ahmad Luthfi

Sorotan

Obat Kuat Perkasa Pria Jakarta Utara Haji Abdul Azis Atasi Ejakulasi Dini

12 Jun 2026, 8:19 WIB

Pusat Pembesar Alat Vital Palembang Haji Abdul Azis Atasi Ejakulasi Dini

07 Jun 2026, 6:59 WIB

Pusat Pembesar Kejantanan Pria Bontang Haji Abdul Azis Ahli Terapi Resmi

28 Mei 2026, 3:33 WIB

Tinjomoyo Berpotensi Jadi Lokawisata Alam Ikon Semarang Asal Dikelola Serius dan Konsisten

24 Mei 2026, 11:50 WIB


Pilihan Redaksi

Baca Juga

Berita Lainnya

Pasang Iklan
Goenglish CHANNEL
Lihat Semua
Gojapan CHANNEL
Lihat Semua
Tradisional CHANNEL
Lihat Semua