Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Info Haji 2025
Home
»
Historia
»
Detail Berita


Perang Korea: Penyebab, Jalannya Pertempuran, Penyelesaian, dan Dampak

Foto: Tentara Amerika Serikat dalam Perang Korea. (U.S. Army Center of Military History/Wayne Weidner)
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Jakarta, Kilaswarta.com -- Perang Korea berlangsung antara 1950 hingga 1953, yang melibatkan Republik Demokratik Korea (Korea Utara) dan Republik Korea (Korea Selatan).

Kendati demikian, perseteruan ini bukan hanya perkara perang saudara, tetapi juga ada campur tangan dari dua negara adidaya.

Dalam perang ini, pihak Korea Selatan dibantu oleh Amerika Serikat, sedangkan Korea Utara dibantu oleh Uni Soviet. Perang ini berakhir dengan gencatan antara kedua pihak, tidak ada negara yang menang maupun kalah.

Karena akhir Perang Korea tanpa perjanjian damai, secara teknis, Korea Selatan dan Korea Utara sampai sekarang masih berperang, dengan terus dilakukan upaya perjanjian damai.

Sebab Umum

Salah satu sebab umum yang menyebabkan terjadinya Perang Korea adalah adanya persaingan ideologi antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Soviet.

Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, terjadi Perang Dingin antara Blok Barat yang dipimpin AS dan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Pada masa ini, Korea menjadi daerah yang diperebutkan oleh AS dan Uni Soviet.

Pada 10 Agustus 1945, tepat beberapa hari sebelum Jepang menyerah, AS dan Uni Soviet menerima tawanan perang Jepang di Korea, yaitu di garis batas paralel ke-38. Namun, pada akhirnya, garis batas itu berubah menjadi garis demarkasi antara AS dengan Uni Soviet.

Hal ini yang menyebabkan adanya dua kubu ideologi di Korea. Korea Selatan, berada di bawah pengaruh AS dengan paham liberal-kapitalis, sedangkan Korea Utara di bawah pengaruh Uni Soviet, yang mengembangkan paham sosial-komunis.

Pada Desember 1945, sesuai Perjanjian Postdam, diadakan konferensi di Moskwa yang menghasilkan sebuah kesepakatan untuk membentuk pemerintahan Korea yang demokratis.

Namun, kesepakatan itu menemui kegagalan sampai kedua pihak justru mendirikan pemerintahan baru di masing-masing belahan Korea pada 1948.

Amerika Serikat membentuk Republik Korea (Korea Selatan) dengan ibu kota di Seoul yang dipimpin Syngman Rhee. Sedangkan Uni Soviet mendirikan Republik Demokrasi Rakyat Korea (Korea Utara) dengan ibu kota di Pyongyang, yang dipimpin Kim Il Sung.

Tidak adanya kesepakatan antara AS dan Uni Soviet mengenai pembentukan Korea merdeka inilah yang akhirnya memicu Perang Korea.

Sebab Khusus

Selain itu, terdapat sebab khusus terjadinya Perang Korea, yaitu karena Sidang Umum PBB mengesahkan laporan hasil pemilihan Korea Selatan pada Desember 1948.

Sidang tersebut menyatakan bahwa pemerintahan Korea Selatan merupakan satu-satunya pemerintahan yang sah. Adanya keputusan itu membuat Korea Utara merasa hak-haknya tidak diakui PBB dan mengungkapkan kemarahannya pada Korea Selatan dan AS.

Hal ini pun semakin membuat Uni Soviet mendukung Korea Utara untuk mendapatkan kekuasaan seluruh wilayah Korea dengan jalur peperangan.

Jalannya Perang Korea

Pada 25 Juni 1950, Korea Utara menyerang Korea Selatan secara mendadak dengan mengirim 75.000 pasukannya melintasi batas paralel ke-38.

Pihak Korea Selatan pun cukup terkejut, hingga membuat Korea Utara unggul dan berhasil menduduki beberapa wilayah, seperti Chuchon, Ongjin, dan Kaesong, yang merupakan kota penting bagi pihak selatan.

Sebenarnya, target serangan ini adalah Seoul, ibu kota Korea Selatan. Namun, cuaca buruk membuat serangan tidak berhasil dilaksanakan.

Tiga hari sejak perang meletus, Seoul berhasil direbut oleh Korea Utara. Saat itu, 12 kota dan 5.000 desa di selatan sudah diduduki pasukan dari utara.

Hal ini membuat Presiden Syngman Rhee dengan staf pemerintahan Korea Selatan meninggalkan Seoul dan pergi ke Taejon.

Meletusnya Perang Korea pun mengejutkan dunia. Satu bulan kemudian, pasukan Amerika Serikat (AS) memasuki medan perang atas nama Korea Selatan, dengan misi memerangi komunisme.

AS juga mengusulkan pada Dewan Keamanan PBB untuk bersidang membahas Korea. Sidang ini menghasilkan dua resolusi, yaitu: Mendesak Korea Utara untuk menghentikan perang dan menarik pasukannya sampai garis batas paralel ke-38, yang memisahkan utara dan selatan.

Memberi sanksi pada Korea Utara jika pihaknya tidak peduli dengan desakan tersebut, maka PBB akan membantu Korea Selatan.

Hingga Agustus 1950, posisi Korea Utara masih unggul dari Korea Selatan. Salah satu sebabnya adalah, pihak utara dan Uni Soviet berhasil mendapat simpati dari rakyat selatan. Pasalnya, Korea Utara, yang dipimpin Kim Il Sung, bersumpah akan menyatukan Korea dan memperbaiki nasib rakyatnya.

Selain itu, logistik milik Korea Utara terpencar di beberapa tempat, sehingga sulit untuk dihancurkan. Pasukan Korea Utara juga mengadakan penyamaran dan penyusupan ke pihak musuh dengan sangat rapi.

Selama tiga bulan berperang, pihak Korea Selatan terus mengalami kekalahan. Hal ini membuatnya memakai strategi baru, yaitu "Pertahanan PBB". Pertahanan ini dipusatkan di Busan dan Taegu.

Pada 26 September 1950, Seoul berhasil direbut kembali, yang menandai bangkitnya Korea Selatan menjadi pihak yang unggul. Kembalinya Seoul juga menjadi dorongan moral bagi Korea Selatan. Bahkan, pihaknya mampu merebut daerah hingga melampaui garis batas paralel ke-38.

Kekalahan Korea Utara secara tidak langsung bisa disebut sebagai kekalahan Uni Soviet juga. Hal ini membuat China, sebagai sekutunya, memutuskan untuk ikut berperang. Tepatnya pada 1 Oktober 1950, Perdana Menteri China, Zhou Enlai, mengatakan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan operasi-operasi yang dilakukan bangsa asing di utara.

Alasan inilah yang digunakan China untuk terjun ke medan perang, yang cukup berhasil membuat Korea Utara unggul kembali. Di pihak lawan, AS dan PBB membangun kekuatan dengan dibantu oleh banyak negara di dunia, mulai dari Inggris, Perancis, Belanda, Belgia, Swedia, Kanada, Yunani, Turki, Thailand, India, Filipina, Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan.

Perundingan Kaesong

Situasi peperangan yang sulit padam membuat kedua pihak melakukan perundingan untuk menghentikan perang.

Salah satunya dengan Perundingan Kaesong, yang berlangsung antara 10 Juli hingga 22 Agustus 1951.

Saat itu, dari pihak PBB diwakili oleh Kolonel (Udara) Andrew J. Kinney dan Kolonel (KKO) James C. Murry, Korea Selatan diwakili Letkol Lee Soo Young, dan Korea Utara diwakili oleh Chang Chun Sen.

Beberapa hasil dari Perundingan Kaesong yaitu sebagai berikut. Penerimaan agenda perundingan Penentuan garis demarkasi militer Usul kepada pemerintah yang bersangkutan untuk menyelesaikan masalah Korea Perundingan Kaesong pada akhirnya mengalami kegagalan karena kedua belah pihak saling tidak menghormati dan saling menuduh.

Pada hakikatnya, kegagalan perundingan ini disebabkan karena tidak adanya kesepakatan tentang garis demarkasi.

Perundingan di Panmunyom

Perundingan ini berlangsung pada 25 Oktober hingga 27 Juni 1953. Pada perundingan ini, dibahas lagi mengenai garis demarkasi. Pihak Korea Utara mengusulkan garis demarkasi selebar 2 mil, yang selanjutnya menjadi daerah bebas militer.

Akhirnya, Korea Selatan menyetujuinya. Adanya kesepakatan ini menunjukkan bahwa masalah saat di Perjanjian Kaesong sudah teratasi. Tahap selanjutnya yaitu perundingan mengenai gencatan senjata.

Akhir Perang Korea

Gencatan senjata diberlakukan mulai 27 Juli 1953. Perang Korea berakhir dengan tidak ada yang kalah ataupun menang. Sesuai dengan Perundingan Panmunyom, garis demarkasi militer memanjang dari muara Sungai Han, beberapa mil sebelah barat daya Panmunyom, lalu melintasi garis batas paralel ke-38, membelok ke arah barat di sebelah selatan Kumsong dan berakhir di utara Kaesong.

Disclaimer :
Konten ini adalah berita Advertorial. Seluruh isi content dan/atau material yang ada di dalamnya sepenuhnya merupakan tanggungjawab pihak pemasang iklan.

Kata Kunci : Berita Indonesia terkini, terbaru dan terpercaya dalam perspektif bisnis, ekonomi, sosial, politik, budaya, teknologi dan ekologi

Tag Berita :

    Sorotan

    KKNT 27 UNDIP Sulap Limbah Rumah Tangga Jadi Produk Bernilai di Plosowangi

    31 Jan 2026, 20:03 WIB

    Inovasi Rocket Stove: Kontribusi Mahasiswa KKNT 27 Undip dalam Pengembangan Teknologi Ramah Lingkungan

    31 Jan 2026, 19:52 WIB

    Edukasi Beras Analog untuk Menanggulangi Bahaya Beras dan Mie Instan pada Ibu-Ibu dan Lansia Desa Pugeran

    31 Jan 2026, 19:25 WIB

    Ubah Sampah Organik Jadi Eco Enzyme, Mahasiswa KKN-T UNDIP Ajak Warga Pugeran Peduli Lingkungan

    22 Jan 2026, 16:31 WIB


    Pilihan Redaksi

    Baca Juga

    Berita Lainnya

    Pasang Iklan
    Goenglish CHANNEL
    Lihat Semua
    Gojapan CHANNEL
    Lihat Semua
    Tradisional CHANNEL
    Lihat Semua