Tan Peng Nio adalah putri dari Jenderal Tan Wan Swee (Chen Wan Rui), seorang panglima yang terlibat dalam pemberontakan terhadap Dinasti Qing pada tahun 1739 di daratan Tiongkok.
Setelah pemberontakan yang gagal, banyak orang-orang Tionghoa yang melarikan diri dari kejaran kekaisaran Qing. Termasuk Tan Peng Nio yang diselamatkan oleh sahabat ayahnya bernama Liang Bing Goe. Liang Bing Goe membawa Tan Peng Nio ke Singapura, lalu ke Batavia, pusat perdagangan VOC yang memiliki komunitas Tionghoa yang besar.
Geger Pecinan
Seiring meningkatnya jumlah pengungsi Tionghoa di Batavia ini menimbulkan kecurigaan VOC yang saat itu menjadi mitra dagang Dinasti Qing.
Terhadap komunitas Tionghoa, Kongsi Dagang Belanda di Timur Jauh ini mulai memberlakukan kebijakan diskriminatif yang berujung pada pembantaian massal pada tahun 1740.
Puluhan ribu orang Tionghoa tewas dalam peristiwa ini, sementara yang selamat melarikan diri ke berbagai wilayah Kerajaan Mataram Islam Kartasura dan kawasan pantai utara Jawa.
Pada awalnya, Sunan Pakubuwono II menerima kedatangan pengungsi Tionghoa ini. Namun, VOC yang tetap mencurigai komunitas Tionghoa ini menekan Pakubuwono II untuk membatasi gerak mereka.
Akibatnya, ketegangan pun meningkat, hingga akhirnya pecahlah pemberontakan yang dikenal sebagai Geger Pecinan di Kartasura dan meluas ke kawasan lain dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Dalam perlawanan ini, komunitas Tionghoa berkoalisi dengan pangeran-pangeran Mataram yang anti-VOC, seperti Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Mangkunegoro.
Salah satu pemimpin milisi Tionghoa yang terkenal adalah Souw Pan Chiang, yang dalam bahasa Jawa disebut Kapiten Sepanjang. Ia memimpin pasukan Tionghoa yang berperan besar dalam penyerbuan ke istana Kartasura pada tahun 1742.
Dalam perang tersebut, Tan Peng Nio bergabung dengan pasukan Kapitan Sepanjang sebagai prajurit Prajurit Langen Kusuma atau Prajurit Estri, yaitu pasukan khusus yang terdiri dari kaum perempuan baik Jawa maupun Tionghoa.
Sejarawan dari Pura Mangkunegara, KRMH Daradjadi Gondodiprodjo, yang menulis dalam bukunya berjudul "Geger Pecinan 1740-1743: Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC" menyebut, Tan Peng Nio menjadi bagian penting dari pasukan Kapitan Sepanjang, dan bertempur di garis depan dalam perang gerilya masa itu.
Perlawanan koalisi antara milisi Tionghoa dan pasukan Jawa anti VOC ini berhasil mengguncang kekuasaan Pakubuwono II yang dianggap pro-VOC dan memaksa Pakubuwono meninggalkan istana kerajaan.
Warisan Tan Peng Nio
Setelah perlawanan di Kartasura, banyak pejuang Tionghoa menyebar dan menetap di berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Termasuk Tan Peng Nio yang kemudian menikah dengan KRT Kolopaking III (Sulaiman Kertowongso), seorang kerabat Pangeran Mangkubumi yang ditunjuk menjadi Bupati Kebumen, dan berhak menyandang gelar sebagai Raden Ayu Tan Ping Nio.
Warisan Raden Ayu Tan Peng Nio tetap dirayakan hingga saat ini, tidak hanya sebagai tokoh penting dalam sejarah integrasi Tionghoa dalam masyarakat Indonesia, tetapi juga sebagai ikon perjuangan kaum perempuan.
Gabungan antara keturunan bangsawan dan kehidupan luar biasa yang dijalaninya menjadikannya sebagai sosok teladan yang dihormati, dan kontribusinya masih dikenang hingga kini.
Salah satu aspek penting dari warisan Raden Ayu Tan Peng Nio adalah kaitannya dengan Festival Cheng Beng, yang juga dikenal dengan Festival Qingming, sebuah acara penting dalam kalender Tionghoa.
Mengutip Geopark Kebumen, perayaan Cheng Beng tidak hanya tentang menghormati leluhur, tetapi juga tentang mengakui kekuatan perempuan seperti Tan Peng Nio.
Ia dipandang sebagai simbol kehadiran dan kekuatan perempuan dalam ingatan sejarah dan akulturasi budaya komunitas Tionghoa dan Indonesia. Adanya tradisi Tan Peng Nio selama Festival Cheng Beng menjadi penghormatan atas perjuangannya.
Kisah Tan Peng Nio adalah bagian dari narasi besar perjuangan komunitas Tionghoa di Nusantara. Dari pelarian akibat pemberontakan di Tiongkok, penyintas pembantaian di Batavia, hingga keterlibatan dalam perlawanan di Kartasura, ia akhirnya menemukan tempat di Kebumen sebagai istri seorang bupati.
Perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa sejarah tidak selalu hanya ditentukan oleh para raja dan penguasa, tetapi juga oleh individu-individu yang berjuang di tengah pusaran peristiwa besar.
Dengan menelusuri lebih jauh kisah seperti Tan Peng Nio, kita bisa memahami lebih dalam bagaimana hubungan antara Tionghoa dan Nusantara terbentuk, serta bagaimana sejarah diaspora Tionghoa di Indonesia terus berkembang dari generasi ke generasi. Selamat Tahun Baru Imlek 2025. (*)
Kata Kunci : Biografi dan jejak sejarah Raden Ayu Tan Peng Nio, Mulan dari Tanah Jawa
Strategi Branding Perguruan Tinggi Swasta untuk Menarik Minat Calon Mahasiswa Baru
18 Jan 2026, 8:18 WIB
Obat Kuat Perkasa Pria Gorontalo Haji Abdul Azis Atasi Ejakulasi Dini
17 Jan 2026, 13:08 WIB
Begini Cara Branding Usaha untuk UMKM agar Bertahan dan Dipercaya di Era Digital
17 Jan 2026, 17:25 WIB
Gelar Bukan Lagi Jaminan, Human Skills Kini Jadi Mata Uang Termahal di Dunia Kerja
08 Jan 2026, 20:57 WIB
03 Jan 2026, 11:00 WIB
29 Des 2025, 6:52 WIB
29 Des 2025, 19:09 WIB
28 Des 2025, 8:36 WIB
Tradisional
27 Des 2025, 20:30 WIB
Tradisional
27 Des 2025, 16:26 WIB
22 Des 2025, 11:48 WIB
Tradisional
18 Des 2025, 1:58 WIB
18 Des 2025, 13:28 WIB
05 Des 2025, 11:17 WIB
27 Nov 2025, 14:20 WIB
27 Nov 2025, 14:09 WIB
17 Nov 2025, 20:58 WIB
16 Nov 2025, 6:26 WIB
16 Nov 2025, 5:53 WIB
13 Nov 2025, 11:57 WIB
13 Nov 2025, 11:40 WIB
13 Nov 2025, 11:48 WIB
13 Nov 2025, 11:25 WIB
13 Nov 2025, 12:10 WIB

Dukung kami sajikan berita Inspirasional dan Independen Melalui Google...