Duta Besar Prancis tiba di Museum Kereta Api Ambarawa, Kabupaten Semarang pada Kamis (5/12/2024) disambut Direktur Utama PT KAI Wisata, Hendy Helmy beserta pejabat Kareta Api Indonesia lainnya.
Kegiatan napak tilas ini tak hanya sekedar mengenang perjalanan Arthur Rimbaud yang diketahui pernah tinggal di Ambarawa dan Salatiga, tetapi juga diharapkan mampu mempererat hubungan sejarah antara Prancis dan Indonesia.
Penyair Prancis Arthur Limbaud merupakan seorang penyair eksentrik yang terkenal dengan karya-karyanya yang mendobrak tradisi. Dalam catatan pribadinya, Arthur tiba di Semarang pada 1 Agustus 1876. Dari sana, ia menaiki kereta menuju Stasiun Tuntang sebelum melanjutkan perjalanan ke Salatiga dengan berjalan kaki bersama serdadu Belanda.
Musem Kereta Api Ambarawa
Di Museum Kereta Api Ambarawa, Penone mengamati arsip dan koleksi lokomotif tua. Ia juga mencoba pengalaman menaiki kereta api uap yang legendaris, sebuah perjalanan nostalgia sejauh sekitar satu jam menuju Stasiun Tuntang.
"Saya sangat senang berkesempatan menaiki kereta ini. Pemandangan indah, suasana yang damai, dan kesempatan berbincang menjadikan perjalanan ini kenangan yang tak terlupakan," kata Penone.
Sebagai bagian dari peringatan tersebut, sebuah plakat dipasang di Stasiun Tuntang. Plakat ini mengabadikan fakta sejarah bahwa Arthur Rimbaud sempat singgah di sana pada 2-15 Agustus 1876, ketika ia bertugas di Salatiga.
Penone berharap, peringatan ini dapat menarik lebih banyak wisatawan Prancis untuk mengunjungi Ambarawa, Tuntang, dan Salatiga sebagai destinasi bersejarah.
Jejak Rimbaud di Salatiga
Napak tilas berlanjut ke Rumah Dinas Wali Kota Salatiga, tempat Rimbaud tinggal selama dua minggu. Rumah ini kini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Penone menggambarkan perjalanan Rimbaud sebagai misteri.
Setelah singgah di Salatiga, Rimbaud kembali ke Prancis empat bulan kemudian, tanpa alasan yang jelas.
"Motivasi Arthur melaksanakan perjalanan luar biasa ini hingga kini tetap tidak jelas. Namun, kita tahu bahwa puisi-puisinya mengandung sejumlah rujukan tentang Indonesia," ungkap Penone.
Seremoni di Salatiga juga menandai perayaan hubungan historis antara Prancis dan Indonesia. Plakat yang dipasang di rumah dinas tersebut menjadi simbol penting bagi hubungan budaya kedua negara.
Penyair yang Melampaui Zaman
Arthur Rimbaud, lahir pada 20 Oktober 1854 di Charleville, Prancis, dikenal sebagai penyair revolusioner yang meninggalkan jejak mendalam dalam sastra modern.
Rimbaud mulai menulis puisi pada usia remaja dan menghasilkan karya-karya terkenal seperti A Season in Hell (1873) dan Illuminations (1874).
Gayanya yang avant-garde dan pemikirannya yang melawan arus menjadikan Rimbaud sebagai tokoh ikonik dalam gerakan simbolisme.
Namun, pada usia 21 tahun, Rimbaud tiba-tiba berhenti menulis puisi dan memilih hidup nomaden. Ia mengembara ke berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk bekerja sebagai tentara bayaran, pedagang, dan penjelajah.
Perjalanan ke Jawa pada tahun 1876 adalah salah satu bagian dari hidupnya yang penuh teka-teki. Banyak yang percaya bahwa pengalaman Rimbaud di tempat-tempat yang jauh, termasuk Salatiga, memengaruhi karya-karyanya meskipun ia tidak lagi menulis secara aktif.
Rimbaud dikenal dengan sifatnya yang kontroversial, sering kali menantang norma masyarakat pada zamannya. Sikapnya yang penuh kebebasan dan semangat eksplorasi membuatnya dianggap sebagai "penyair kutukan" (poète maudit). Meski singkat, karier sastranya memberikan dampak besar yang masih dirasakan hingga hari ini.
Menarik Wisatawan dengan Sejarah
Kunjungan Dubes Penone dan pemasangan plakat di Stasiun Tuntang dan Rumah Dinas Wali Kota Salatiga diharapkan dapat menarik lebih banyak wisatawan Prancis.
Direktur PT KAI Wisata, Hendy Helmy, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen melestarikan sejarah dan budaya perkeretaapian di Indonesia.
"Tuntang dan Ambarawa adalah bagian dari sejarah. Ini bukan hanya warisan nasional, tetapi juga warisan dunia," ujarnya.
Penone juga optimistis bahwa hubungan historis ini akan memberikan dampak positif bagi wisatawan Prancis yang mengunjungi Indonesia.
Dengan adanya jejak sejarah seperti ini, wisatawan akan merasa terhubung secara personal dengan destinasi-destinasi tersebut.
Merayakan Warisan Bersama
Melalui peringatan ini, tidak hanya perjalanan singkat Arthur Rimbaud yang diabadikan, tetapi juga hubungan erat antara dua budaya yang berbeda.
Jejak Rimbaud di Ambarawa dan Salatiga menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga jembatan yang menghubungkan kita dengan masa depan. Dengan menjadikan destinasi-destinasi ini sebagai objek wisata unggulan,
Indonesia dan Prancis dapat terus mempererat hubungan budaya dan sejarah mereka, memperkaya kedua bangsa melalui warisan bersama.
"Melalui seremoni ini, kita merayakan hubungan historis yang mendalam antara Prancis dan Indonesia. Saya yakin akan semakin banyak orang Prancis yang tertarik mengunjungi Ambarawa dan Salatiga untuk merasakan langsung jejak sejarah ini." kata Penone menutup kunjungannya. (*)
Kata Kunci : Dubes Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, melakukan perjalanan napak tilas mengenang jejak penyair legendaris Prancis, Arthur Rimbaud, di Ambarawa dan Salatiga
KKNT 27 UNDIP Sulap Limbah Rumah Tangga Jadi Produk Bernilai di Plosowangi
31 Jan 2026, 20:03 WIB
31 Jan 2026, 19:52 WIB
31 Jan 2026, 19:25 WIB
Ubah Sampah Organik Jadi Eco Enzyme, Mahasiswa KKN-T UNDIP Ajak Warga Pugeran Peduli Lingkungan
22 Jan 2026, 16:31 WIB
18 Jan 2026, 8:18 WIB
Tradisional
17 Jan 2026, 13:08 WIB
17 Jan 2026, 17:25 WIB
08 Jan 2026, 20:57 WIB
03 Jan 2026, 11:00 WIB
29 Des 2025, 6:52 WIB
29 Des 2025, 19:09 WIB
28 Des 2025, 8:36 WIB
Tradisional
27 Des 2025, 20:30 WIB
Tradisional
27 Des 2025, 16:26 WIB
22 Des 2025, 11:48 WIB
Tradisional
18 Des 2025, 1:58 WIB
18 Des 2025, 13:28 WIB
05 Des 2025, 11:17 WIB
27 Nov 2025, 14:20 WIB
27 Nov 2025, 14:09 WIB
17 Nov 2025, 20:58 WIB
16 Nov 2025, 5:53 WIB
16 Nov 2025, 6:26 WIB
13 Nov 2025, 11:25 WIB

Dukung kami sajikan berita Inspirasional dan Independen Melalui Google...